Nikmati Keindahan Alam dari Gunung Masjid Ponorogo

Klik Formasi - Siapa yang tidak suka dengan traveling? Pasti semuanya suka kan? Punya hobi traveling memang sangat mengasyikkan. Karena dengan hobi itu saya bisa mengunjungi tempat – tempat baru setiap harinya. Selain itu, traveling juga punya banyak sekali manfaat yang mungkin tidak langsung saya sadari. 

Salah satu manfaat yang bisa saya dapatkan saat traveling adalah rasa bahagia karena bisa bertemu dengan orang baru di tempat liburan. Dengan demikian saya bisa mendapat teman baru bahkan bisa saling bertukar pengalaman traveling.

Dengan menjadi seorang traveler secara tidak langsung saya juga bisa belajar mandiri. Karena saya terbiasa pergi ke tempat baru dan terlepas dari orang tua. Saya pun harus belajar menjaga diri sendiri tanpa ada pengawasan. 

Untuk masalah tempat, saya lebih menyukai tempat wisata yang berbau alam. Karena dengan begitu, saya bisa merasakan indahnya pemandangan alam dan hawa sejuk yang mungkin tidak bisa dirasakan tiap harinya.

Seperti halnya kisah sederhana yang akan saya tulis kali ini, saya melakukan perjalanan untuk menyaksikan lukisan alam yang begitu menyejukkan.

Pagi itu, kalau tidak salah hari Sabtu. Saya memiliki sebuah agenda yang membuat saya tidak bisa tidur nyenyak di malam sebelumnya, yaitu piknik. Saat ini orang – orang lebih suka menyebut traveling dengan kata piknik. Entahlah, mungkin karena pengaruh banyaknya orang menggunakan kata piknik di instagram. 

Sejak berminggu – minggu sebelumnya saya sudah berencana untuk mendaki bukit yang ada di Ponorogo yaitu gunung Masjid. Walaupun ini sebenarnya adalah bukit, tapi lebih dikenal dengan sebutan gunung. Lalu kenapa bernama Masjid? Bukan karena dipuncaknya terdapat Masjid ya. Hanya saja bukit yang ada disana berbentuk kubah Masjid, maka dari itu dinamakan Gunung Masjid. Saya berencana pergi kesana dengan beberapa teman semasa saya di SMA.

Rencana hanya tinggal rencana, yang semula ada beberapa orang yang berniat untuk pergi akhirnya hanya berujung dua orang. Saya dan teman saya. Sebelumnya, teman saya sudah menanyakan apakah tetap akan pergi hari itu atau tidak. Namun, karena keinginan piknik saya yang begitu kuat, saya tetap memutuskan untuk pergi juga. Toh, apa salahnya pergi hanya berdua. Yang penting bisa menikmati keindahan alam yang sudah diimpi – impikan bukan?

Sekitar jam 9 saya berangkat dari rumah menuju lokasi wisata. Tidak jauh, hanya sekitar 45 menit saja. Tapi memang harus melewati jalan yang tidak beraspal. Di jalan, kami pun bercerita panjang lebar bernostalgia tentang masa – masa SMA. Sambil menikmati pemandangan hijaunya sawah khas pedesaan dan hawa sejuk khas pegunungan. 

Kami berhenti sebentar di toko kecil untuk membeli air minum dan konsumsi lainnya dan bertanya rute menuju Gunung Masjid. Berbekal tas carrier murah, kami kemas semua perbekalan pendakian. Memang kami belum pernah kesana, hanya tau lokasi itu dari internet khususnya instagram. Jadi persiapan terbilang seadanya kala itu.

Singkat cerita, kami pun sampai di lokasi. Saat di tempat parkir, saya  sempat bertanya kepada penjaga puncak gunungnya jauh atau tidak. Dia menjawab jauh dan harus mendaki terlebih dahulu. Saya berpikir tak apalah kalau tidak sampai puncak yang penting saya bisa menikmati keindahan alamnya. Perjalanan pun kami mulai.

Awal yang berat menurut saya karena jalan yang ditempuh berupa pasir – pasir. Ruginya lagi saya salah memakai sepatu, saya malah memakai sepatu yang alasnya licin, jadi saya harus ekstra hati – hati. Setelah sampai agak atas atau dibilang pos 1 saya sudah bisa menikmati kehijauan alam yang ada. Saya dan teman beristirahat cukup lama disana, tidak lupa juga kami mengambil foto sebanyak – banyaknya. 

Lalu perjalanan kami lanjutkan, kami menemukan rumah pohon disana. Perjalanan kami hentikan lagi, sayang jika rumah pohon itu tidak diabadikan. Kami sudah mulai terbiasa dengan rute yang ada karena sudah tidak begitu sulit tapi tetap menanjak.

Sekitar 20 menit berjalan saya mulai merasa lelah. Saya merasa sudah cukup puas dengan pemandangan yang indah dan stok foto yang tidak kalah indahnya pula. Namun teman saya selalu mengingatkan bahwa puncak gunung sudah dekat. Sayang jika ditinggalkan. Dari kejauhan tampak bendera Merah Putih berkibar di puncak gunung. Akhirnya saya mengalah, saya melanjutkan perjalanan lagi.Setengah perjalanan kami lalui, kami mulai masuk ke daerah dengan jalan yang bersebelahan dengan jurang. Rasa khawatir dan cemas pun muncul, tapi saya tak lupa untuk berdoa dan selalu berhati – hati. Kadang jika berpapasan dengan orang yang berjalan dari arah lain, kami harus berhenti, agar mereka bisa melewati jalan tersebut dengan aman.

Tidak terasa kami pun sudah sampai puncak, rasa bahagia, puas, semua bercampur aduk. Walaupun terbilang sebentar tapi ini pengalaman pertama saya mendaki bukit yang agak ekstrem. Pemandangan yang sangat indah bisa kita lihat dari atas puncak gunung. Mungkin jika saya putus asa tidak ingin melanjutkan perjalanan, saya akan sangat menyesal. 

Di puncak, kami menghabiskan waktu menikmati keindahan alam dengan segelas coklat panas. Ternyata ini alasan teman saya bersikeras untuk sampai ke puncak. Semuanya sudah dipersiapkan dari rumah. Setelah sekitar 15 menit kami di puncak, akhirnya kami pulang. Sungguh, pengalaman yang sangat mengesankan. Semoga lain waktu bisa piknik ke wisata alam yang lainnya.  Sudah terbayang bagaimana seru dan asyiknya jika saya bisa mendaki gunung yang lebih tinggi daripada gunung Masjid ini.
Previous
Next Post »